Apa yang kau cari setelah lulus kuliah?
Pertanyaan itu terbersit dalam kegalauanku setelah beberapa bulan pencarian kerja yang cukup melelahkan hati dan pikiran. Bagaimana tidak? Sulit untuk memaksa diri untuk tidak mengeluh. Telah berulang kali berucap dalam lisan ataupun dalam hati bahwa semua akan berlalu dan hal baik akan datang. Proses ini perlu dilalui dan dihadapi. Mengeluh dan putus asa hanya akan membuat proses ini semakin berat dan sulit.
Semua orang memberi saran, kekuatan, dan doa. Bahwa aku harus berusaha semaksimal mungkin dan Tuhan akan membawa kebaikan pada waktu yang tepat.
Lalu setelah sekian lama dari hari bahagia kelulusanku muncul pertanyaan seperti di atas? Apa yang aku cari? Seperti mudah ditemukan jawabannya. Ya, dari judulnya saja sudah tertebak. Jawaban mudahnya adalah sebuah pekerjaan yang memberikan rutinitas. Tapi lebih dari itu, aku membutuhkan jawaban yang lebih besar pada diriku sendiri.
Apa yang aku inginkan? Hanya sebuah pekerjaan? Apakah sesederhana itu?
Tentu saja tidak. Ada banyak hal yang membutuhkan jawaban.
Kata orang, bersabarlah! Maka engkau akan sampai pada apa yang kamu cari. Iya, sebuah penghiburan pada hati dan pikiran.
Teruslah berusaha menemukan apa yang dicari sehingga akan sampai pada jawaban yang memberikan kebahagiaan.
Hidup tidak mudah tapi bukan berarti tidak bisa dilalui.
Ini bukan cobaan nan tak tertanggungkan. Hahaha.
Hanya sebuah proses yang menjadikan manusia mendewasakan diri. Semoga pada akhirnya semua proses ini mendewasakanku.
Pun jika apa yang dicari telah diketemukan maka itu hanya sebuah awal dari perjalanan panjang menjadi orang dewasa yang mandiri.
Semangat semangat semangat jobseeker.
Saturday, November 7, 2015
Sebutlah Jobseeker
Monday, November 2, 2015
Visit Museum Nasional
Bahagia. Satu kata yang terdengar biasa saja tapi sungguh luar biasa jika dirasakan oleh manusia yang telah lama kosong jiwanya. Kenapa begitu? Bahagia tak terlihat oleh kasat mata. Adanya di dalam diri manusia yang senantiasa mencari. Kebahagiaan tidak datang sendiri, ada tindakan yang harus dibuat untuk sampai pada satu titik keadaan.
Lalu pada hari minggu yang cerah, aku dan temenku merencanakan acara jalan-jalan ke museum. Ya museum yang berisi barang antik. Kaya kita berdua yang tetep antik karena belum juga punya pasangan untuk diajak jalan bareng ke museum. Pilihan kami jatuh pada sebuah tempat di tengah kota Jakarta yakni museum nasional. Letaknya di Jalan Merdeka Barat Jakarta Pusat. Lokasinya deket monas terus di depannya ada halte busway monas.
Thursday, May 21, 2015
Pulang kampung
Lelah mendera sekujur tubuh selepas perjalanan panjang melintasi jalur sepanjang tidak kurang dari 400 km. Melewati banyak kota dan kabupaten di tiga propinsi rasanya cukup membuat sendi tak berdaya. Tidur panjang di jok kursi penumpang bus malam sendirian sungguh tak enak. Tetapi tetap nikmat bersender di bahu bapak di sebelah yang memangku satu anak. Maafkan aku bapak, tubuh ini sudah tak sadar bila dalam dunia mimpi. Tak ada pembicaraan antara kita sebelumnya. Tak perlu basa basi. Pulang kali ini tidak bertujuan untuk mencari relasi. Namun tetap saja ada seorang kakek yang mengganggu di seberang tempat dudukku. Walaupun telah memasang tampang paling nyebelin masih saja ditanya pertanyaan yang males untuk dijawab. Bukan bermaksud tidak sopan akan tetapi aku memilih menjawab singkat tanpa basi-basi. Ketidaknyamanan ini tidak perlu ditambah dengan pertanyaan standar, "mau kemana? dan tinggal dimana?" Sebagai penumpang yang baik lebih baik untuk menghargai privasi orang lain dalam perjalanan yang panjang. Terkecuali jika lawan bicara menunjukkan kesediaannya untuk berbincang.
Bus berjalan menembus jalan bebas hambatan. Sesekali berhenti untuk mengangkut penumpang dan mengisi bahan bakar. Pengamen dan pedagang asongan sibuk menjajakan jualannya. Kupaksa tanganku mencari recehan di kantong jaket sisa kembalian. Satu dua pengamen kumasukkan uang ke dalam tempat yang disodorkan. Setelah kesekian aku hanya menatapnya dan pura-pura tak mendengar. Sikap ini pun banyak ditunjukkan mereka yang menghuni bus malam ini. Di terminal Kalideres, dua bocah pengamen masuk ke dalam bus dan mulai bernyanyi. Entah lagu apa yang dinyanyikan aku tak begitu memperhatikan. Pukul 03.15 sore bus meluncur ke jakarta.
Headset terpasang rapi di telinga. Kerudungku udah tak tau gimana. Asal bisa tidur nyenyak sudah tak peduli.
Tengah malem bus berhenti di tempat makan. Semua penumpang turun terpaksa aku juga ikut turun. Ngantri makan sebentar kemudian memilih tempat duduk di ujung. Sendirian. Selesai makan aku kembali ke bus. Namun sayangnya aku lupa warna bus yang aku tumpangi. Bus melaju dengan kencang.
Sampai di Brebes, terjadi kecelakaan yang mengakibatkan satu bus malam terhantam sesuatu sampai ringsek bagian depannya. Menghalangi jalan. Tak sampai membikin macet jalan. Bus melewatinya pelan-pelan.
Sepanjang jalan aku tertidur pulas. Tak tahu sudah sampai mana.
Terbangun di tengah jalan ketika sang kondektur teriak teriak, "Demak Demak, siapa yang turun Demak?" Dengan cepat aku menyahut, "Saya saya saya." Kusambar tasku di atas kepala. Segera turun di depan Masjid Agung Demak dan menurunkan bawaanku dari bagasi bus.
Akhirnya sampai juga di kampung halaman. Yeay yes.
Terbayar sudah perjalanan semalam yang cukup melelahkan.
Sampai jumpa lagi pada trip selanjutnya.
Happy holiday.