Saturday, July 25, 2015

Mengenangmu

Hari ini kami memperingatimu. Ya sepuluh tahun sudah engkau telah meninggalkan keluarga ini. Kami terus berjalan. Time flies so fast. Namun kenangan tidak mudah hilang begitu saja. Walaupun hidup harus terus menatap ke depan, seolah-olah engkau selalu ada.
Aku tumbuh dewasa, menjadi perempuan yang telah memikirkan masa depannya sendiri. Tak lagi selalu memanggil namamu setiap pagi jika perlengkapan sekolahku hilang. Bagaimana mungkin aku lupa? Kadang aku ingin menghapusnya atau setidaknya menyimpan rapi semua memori tentangmu? Ada masanya semua menjadi menyakitkan. Aku masih labil menghadapi dunia. Belum menemukan titik balik dalam hidupku. Selalu mencari jawaban dari setiap keadaan yang tak semestinya. Mencari arti dari yang hilang. Engkau tak lagi bisa menjawab pertanyaanku. Mungkin kau bisa mendengar keluh kesahku, tapi aku tak mampu menjangkau duniamu. Selalu muncul pertanyaan bodoh dalam kepalaku jika suatu saat aku berada dalam masalah. Bisakah engkau kembali? Mustahil. Lalu aku menyadari, aku tak pernah benar-benar membiarkanmu pergi.
Kedewasaan tidak diukur dari usia seseorang, begitu kata pepatah. Siapa yang mengatakannya? Aku pun tak tahu. Tapi mungkin benar untuk keadaanku saat ini, aku belum dewasa. Saat itu akan datang ketika nanti aku telah mampu membiarkan yang telah pergi dan mempersilahkan orang yang akan datang. Untuk sampai pada tahap itu, aku harus belajar. Yang pertama dan utama adalah belajar mengendalikan diri. Sulit memang untuk dilakukan tapi aku yakin bisa melewatinya. Anggap saja ujian hidup. Semua orang punya masalah dan seharusnya mampu melewatinya. Kecuali orang-orang yang memutuskan untuk lari dari keadaan.
Saat ini aku ingin mengingat engkau dalam suasana yang damai dan tentram. Aku berharap engkau melihatku dan mendengarku. Saat ini aku hanya ingin didengarkan. Lalu semua menjadi baik.
Engkau adalah pribadi yang kalem, tidak banyak bicara dan menyimpan banyak cerita hidup. Sebagian diriku ingin menjadi seperti dirimu. Walau tak semua darimu sempurna tapi kau teladan yang baik. Sebisa aku mengingat engkau adalah orang yang tulus dan penuh kasih terhadap siapa pun. Kisah hidupmu memberikan banyak pelajaran untukku untuk sabar dalam menghadapi sesuatu. Aku belum mencapai itu dan masih terus belajar. Engkau tak lagi mengajariku makna hidup tapi tak apa. Kau tetap selalu di hatiku.

Aku masih menjadi anak perempuanmu. Bagiku engkau tetap hidup dalam diriku. Kapan pun aku membutuhkanmu, aku berharap engkau ada di sana sedang mendengarkanku. Bapak, aku tak lagi menangis ketika mengingatmu. Aku bahagia terlahir sebagai anakmu.

Thursday, May 21, 2015

Pulang kampung

Lelah mendera sekujur tubuh selepas perjalanan panjang melintasi jalur sepanjang tidak kurang dari 400 km. Melewati banyak kota dan kabupaten di tiga propinsi rasanya cukup membuat sendi tak berdaya. Tidur panjang di jok kursi penumpang bus malam sendirian sungguh tak enak. Tetapi tetap nikmat bersender di bahu bapak di sebelah yang memangku satu anak. Maafkan aku bapak, tubuh ini sudah tak sadar bila dalam dunia mimpi. Tak ada pembicaraan antara kita sebelumnya. Tak perlu basa basi. Pulang kali ini tidak bertujuan untuk mencari relasi. Namun tetap saja ada seorang kakek yang mengganggu di seberang tempat dudukku. Walaupun telah memasang tampang paling nyebelin masih saja ditanya pertanyaan yang males untuk dijawab. Bukan bermaksud tidak sopan akan tetapi aku memilih menjawab singkat tanpa basi-basi. Ketidaknyamanan ini tidak perlu ditambah dengan pertanyaan standar, "mau kemana? dan tinggal dimana?" Sebagai penumpang yang baik lebih baik untuk menghargai privasi orang lain dalam perjalanan yang panjang. Terkecuali jika lawan bicara menunjukkan kesediaannya untuk berbincang.
Bus berjalan menembus jalan bebas hambatan. Sesekali berhenti untuk mengangkut penumpang dan mengisi bahan bakar. Pengamen dan pedagang asongan sibuk menjajakan jualannya. Kupaksa tanganku mencari recehan di kantong jaket sisa kembalian. Satu dua pengamen kumasukkan uang ke dalam tempat yang disodorkan. Setelah kesekian aku hanya menatapnya dan pura-pura tak mendengar. Sikap ini pun banyak ditunjukkan mereka yang menghuni bus malam ini. Di terminal Kalideres, dua bocah pengamen masuk ke dalam bus dan mulai bernyanyi. Entah lagu apa yang dinyanyikan aku tak begitu memperhatikan. Pukul 03.15 sore bus meluncur ke jakarta.
Headset terpasang rapi di telinga. Kerudungku udah tak tau gimana. Asal bisa tidur nyenyak sudah tak peduli.
Tengah malem bus berhenti di tempat makan. Semua penumpang turun terpaksa aku juga ikut turun. Ngantri makan sebentar kemudian memilih tempat duduk di ujung. Sendirian. Selesai makan aku kembali ke bus. Namun sayangnya aku lupa warna bus yang aku tumpangi. Bus melaju dengan kencang.
Sampai di Brebes, terjadi kecelakaan yang mengakibatkan satu bus malam terhantam sesuatu sampai ringsek bagian depannya. Menghalangi jalan. Tak sampai membikin macet jalan. Bus melewatinya pelan-pelan.
Sepanjang jalan aku tertidur pulas. Tak tahu sudah sampai mana.
Terbangun di tengah jalan ketika sang kondektur teriak teriak, "Demak Demak, siapa yang turun Demak?" Dengan cepat aku menyahut, "Saya saya saya." Kusambar tasku di atas kepala. Segera turun di depan Masjid Agung Demak dan menurunkan bawaanku dari bagasi bus.
Akhirnya sampai juga di kampung halaman. Yeay yes.
Terbayar sudah perjalanan semalam yang cukup melelahkan.
Sampai jumpa lagi pada trip selanjutnya.
Happy holiday.

Sunday, March 29, 2015

Dibalik Setahun Penantian

Halo kawan, Selamat berminggu malam.
Besok hari senin, itu mengerikan bagi para pekerja.Sayangnya aku tidak bekerja, itu lebih mengerikan, berstatus pengangguran. Hahaha.
Tak perlu bersedih, aku masih menikmati euforia pasca sidang akhir hari kamis, 26 Maret 2015. Diselimuti rasa bahagia atas kerja yang sungguh sangat panjang.
Penantian untuk tiba pada hari dimana kebahagiaan benar-benar nyata.
Selama setahun terakhir berkutat dengan sebuah karya yang diberi nama skripsi. Banyak hal yang telah dilewati. Masa-masa yang kadang tidak dapat dijelaskan. Segala rasa telah dilalui mulai dari senang, sedih, kecewa, galau, gelisah, dan rasa yang sulit dipahami oleh diri sendiri.

Aku ingin bercerita ketika suatu malam yang seperti malam-malam biasa di akhir tahun 2014 yang tiba-tiba saja merasa punya kekuatan dan rasa yang begitu besar untuk terus menulis tanpa henti dan otak rasanya terus mengalirkan setiap kata yang akan ditulis. Aku hanya mengalami itu sekali selama malam-malam panjang pengerjaan skripsi. Seolah satu malam itu aku dirasuki hawa baik yang mendorongku untuk terus menulis dan tak ingin tertidur lagi karena takut tak akan ada lagi hasrat yang lebih besar daripada malam itu. Namun aku hanyalah manusia dengan tubuh ringkih yang selalu kelelahan dalam melakukan sesuatu. Tak pernah kuat begadang sampai pagi. Kemudian aku merebahkan diri dan merenung lalu memikirkan apakah besok aku akan mendapatkan hasrat dan pencerahan yang sama seperti malam ini? Keesokan paginya aku membuka lagi laptopku namun hasilnya sama seperti hari-hari sebelumnya. Tak seperti malam itu, otakku tak mau bekerja keras. Hanya mau sedikit diperas sari-sarinya. Aku selalu membayangkan malam itu dan berharap dapat merasakan energi yang sama ketika mengerjakan sesuatu yang lain.

Pada akhirnya, penantian panjang telah berakhir. AKU mampu menyelesaikannya dengan baik. Aku percaya pada dariku. Selama setahun ini aku telah mempertanyakan banyak hal tentang hidup dan menjadi dewasa. Aku pernah pada masa seperti marah pada semua hal yang menjadikanku seperti sekarang ini. Aku bahkan tak tahu kenapa dapat berpikir demikian.

Bahagia adalah kata yang indah. Satu kata yang sanggup menghapus semua rasa negatif. Mari kita nikmati kebahagiaan yang tak mungkin akan bertahan lama. Life must go on. So, tentu saja boleh berbahagia tetapi harus tetap menapak bumi.

Setelah ini akan ada tantangan yang lebih besar di depan. Bersiaplah untuk mencapai sesuatu yang lebih daripada sebelumnya. Rencanakan diri untuk menyongsong dunia nyata.

Happiness is the truth. 

Saturday, October 4, 2014

Senyum Tak Indah

Senyumku tidak indah. Bukan berarti bahwa aku sedang tidak percaya diri. Bukan. 

Kau tahu aktris yang punya senyum indah? Itu mungkin biasa tapi aku selalu iri dengan senyuman orang lain yang terlihat indah. Melebarkan bibir dan jadilah wajah manis nan elegan. Meskipun aku tak peduli apakah benar itu senyum tulus atau hanya sekedar senyum palsu. Aku tetap iri.

Akhir-akhir ini aku banyak berpikir, ya salah satunya tentang senyumanku yang tak indah dan kaku. Bukan karena aku jarang senyum tapi mukaku memang sulit berkompromi dengan suasana hati. Jika orang lain terlihat manis ketika di depan kamera. Maka aku sebaliknya, jarang sekali aku tampil mengesankan di kamera. 

Lalu apa yang salah? Adakah itu suatu keanehan? Tidak mampu tersenyum lebar dan manis nan elegan? Apakah itu mengurangi kebahagiaan kita? Banyak hal yang membuatku bertanya-tanya tentang sebuah senyuman. 

Apa makna bahagia? Saat aku mulai memasuki dunia menjadi dewasa, rasanya bahagia sulit didefinisikan. Hanya untuk tersenyum saja, kadang butuh alasan untuk melakukannya. Kadang sedikit mengerikan dunia ini. 

Aku meyakinkan diriku bahwa aku berhak tersenyum dan bahagia tanpa harus punya alasan dan definisi. Sadarilah bahwa tidak semua orang punya senyum indah dan tidak ada larangan untuk menampilkan senyum tak indah dan kaku. 

Tersenyumlah pada dunia. 
 

Monday, November 4, 2013

Minggu Cerah di Negeri Tongkeng

 
Hari ini aku bersama teman-teman cewek yang kece akan menemui sobat-sobat cilik dari negeri Tongkeng. Dimanakah negeri Tongkeng? Ada yang tahu? Yap benar sekali, negeri Tongkeng ada di Jalan Tongkeng (jalan Patrakomala) Bandung.
Cuaca hari minggu sangat cerah untuk dihabiskan dengan bermain bersama sobat-sobat cilik. Terdengar sangat mengasikkan. Kami tidak menyiapkan apa-apa untuk dibawa ke negeri Tongkeng. Tak ada perbekalan. Hanya keinginan yang besar untuk datang dan bermain.
Perlu waktu satu jam untuk sampai di negeri Tongkeng dari negeri tempat kami tinggal. Perjalanan yang cukup panjang tidak membuat semangat kami luntur menjumpai sobat-sobat cilik. Sesampainya di negeri Tongkeng, kami tidak kenal dengan satupun penghuni negeri Tongkeng. Kami asing di mata mereka. Tetapi kami tidak menyerah. Langkah awal, sok kenal. Caranya? Dengan ikut permainan mereka, sepak bola. Baru aku tau, betapa melelahkannya bermain bersama anak-anak? Tetapi lihatlah mereka, tidak pernah mengerti kita. Terus bermain walaupun tanpa kami.
Langkah kedua, jangan bersikap formal dan kaku. Hei mereka hanya anak-anak yang sedang menghabiskan hari liburnya dengan bermain. So, kuras tenagamu bersama mereka. Kalau tidak sanggup, jangan mengeluh di depan mereka.
Langkah ketiga, kenalilah mereka satu persatu. Jangan sampai terlewat. Dengan susah payah aku menghafalkan seluruh nama sobat-sobat cilik negeri Tongkeng. Terkadang aku harus mengulangi pertanyaan yang sama, siapa namamu? Kelas berapa? Sekolah dimana? Betapa menyenangkannya jika nama kita diingat oleh orang lain.
Kadang kala anak-anak yang kita kira lucu dan menggemaskan mengejutkan kita dengan bahasa yang tidak sepantasnya. Marahkah kita? Tidak, mereka hanya anak-anak. Lalu apa yang kita lakukan? Memberitahu tapi tidak dengan sikap keras. Begitu pula sobat Tongkeng, beberapa kali harus mendengar kata-kata kotor. Haruskah dunia anak-anak penuh dengan kata-kata kotor? Sisi lain dunia ini mengerikan buat anak-anak.
sobat-sobat kecil Negeri Tongkeng tidak selalu menemani kami sebagai teman baru. Mereka meningggalkan kita sesuka hati. Kami masih tidak dianggap.
Sebelum kami pulang ke negeri masing-masing, kemi berhasil membujuk mereka untuk berkeliling negeri Tongkeng. Menunjukkan rumah-rumah sobat-sobat cilik. Banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan hari ini. Negeri Tongkeng menyimpan sejuta cerita yang tersembunyi dalam setiap diri sobat-sobat cilik. Indahnya dunia anak-anak.
Ketika akan pulang, kami berpamitan dengan mereka, para sobat cilik. Hal yang membuatku terkesan, salah satu dari mereka menyebut namaku. Kami baru kenal dan mereka mengingat kita. 
Minggu depan kami akan berkunjung lagi. Sampai jumpa sobat-sobat cilik negeri Tongkeng. Aku tidak sabar menunggu permainan kita selanjutnya. 





Sunday, April 21, 2013

Perempuan

Perempuan
Tengah malam begini pukul 00.27 saat mata udah mulai tidak terhubung dengan saraf otak, aku masih ingin menulis tentang perempuan. Akhir-akhir ini aku cukup sering memikirkan tentang ini. ya, satu tema besar tentang diriku atau label yang diberikan dan melekat kuat dalam tubuhku. Terlahir menjadi perempuan. Aku tentu saja tidak memilih lahir sebagai perempuan tetapi tetap saja aku lahir dengan tubuh yang disebut sebagai tubuh perempuan. Sekali lagi aku tidak memilih lahir dengan tubuh perempuan. bukan aku tidak menyukai tubuhku, tetapi label ini menyimpan banyak beban yang harus ditanggung dari lahir sampai mati.
Pertanyaannya kenapa tiba-tiba menulis tentang perempuan? Banyak alasan yang mendasari pemikiran ini. Jujur aku belum banyak membaca tentang perempuan. Aku hanya akan menuliskan hal-hal yang menurutku perlu aku teriakkan pada orang-orang soal menjadi perempuan. Mungkin akan sangat subyektif sekali. Aku ingatkan bahwa tulisan ini tidak akan netral dan jelas akan memihak. Aku akan sangat menghargai jika yang membaca tulisan ini mau merendahkan dirinya untuk menerima pemikiran mahasiswa yang mempertanyakan banyak hal tentang perempuan dari sudut pandang perempuan. Tanpa melihat penulis seorang perempuan, semoga tulisan ini bermanfaat.
Kemarin adalah Hari Kartini. Aku belum sempat membaca tulisannya. Aku hanya tahu kalau beliau berjuang untuk menuntut kesetaraan perempuan. Lalu malam ini, temenku bilang padaku, “Kamu udah baca bukunya Kartini?” Setelah sekian lama tertarik dengan perempuan, ternyata aku abai dengan tokoh dan karya-karya pahlawan perempuan Indonesia apalagi dunia. Banyak alasan tentu saja, Lain kali ajalah kuceritakan. Kenapa temenku bisa nanya seperti padaku, mungkin karena dia sering mendengarku bicara soal perempuan. Kalau udah bicarain tentang perempuan, kadang-kadang aku suka agak ngotot.
Aku perempuan muda dengan idealisme yang agak muluk-muluk. Kadang kalau aku pikir aku terlalu berandai-andai soal keadaanku sebagai perempuan. Menjadi perempuan ternyata sulit sekali. Apa pun yang dilakukan selalu dikaitkan dengan identitas keperempuanan. Bayangkan saja, hanya untuk memilih warna baju saja harus dikaitkan dengan identitas perempuan. Apa salahnya kalau aku memilih kemeja warna hitam dengan celana jins warna hitam dengan potongan rambut cepak atau kaos pendek warna hitam dengan celana warna hitam tanpa anting? Masih mending kalo aku berdandan seperti itu lalu datang ke kampus? Orang bilang kampus tempat orang brependidikan jadi hal-hal begitu agak ditolerirlah itupun aku masih sanksi. Apalagi kalau kita bergaya seperti itu datang ke kampungku. Silakan aja dicoba. Ini hal kecil menurutku, hanya soal memilih warna dan gaya pakaian, belum soal kita memilih pendidikan, pekerjaan, tempat tinggal, bahkan soal pasangan hidup. Entah bagaimana semua menyulitkan perempuan untuk mengatur hidup yang harusnya ditentukan oleh setiap individu perempuan. Mungkin di zaman sekarang ini sudah banyak perempuan bisa menentukan pilihannya sendiri. Bisa sekolah, bekerja di ruang publik, punya uang sendiri, bisa jalan-jalan, punya rumah sendiri.  Tetapi coba hitung, lebih banyak mana perempuan yang punya pilihan dan dibolehin ini-itu ketimbang perempuan yang hanya di rumah menunggu lamaran orang? Aku tidak menyalahkan siapa pun. Aku hanya mempertanyakan kenapa bisa begitu?
Aku mungkin sedikit lebih beruntung daripada perempuan yang lain. Aku walaupun terlahir perempuan tapi masih bisa kuliah. Temenku deketku satu kampung tidak beruntung karena lahir di keluarga yang entah karena berbagai alasan mungkin, tidak memungkinkannya kuliah. Kalau kutanya, apakah tidak ingin kuliah, dia bilang bahwa keluarga tidak mampu atau memang sebenarnya orang tuanya berbikir bahwa dia hanya perempuan. Untuk apa?
Atas nama perempuan yang diagungkan, aku menolak untuk perlakuan yang menjadikan perempuan terhakimi. Mungkin tidak secara sadar dan diterima begitu saja oleh perempuan. Mungkin perlakuan ini dilakukan ini oleh perempuan juga. Tetapi aku yakin segala pemikiran dan perlakuan terhadap perempuan dibentuk. Oleh apa dan siapa? Satu pertanyaan yang harus dibongkar lebih dalam.
Aku sering berselisih paham dengan laki-laki tentang kediaknyamananku menjadi perempuan dengan stereotipe di masyarakat. Bahkan dengan perempuan sendiri. Jika laki-laki yang menentang, wajar saja. Karena secara tidak sadar apa yang kupikirkan mengusik dominasi laki-laki. Bagaimana mungkin suaraku atas perempuan yang menuntut agar perempuan diperlakukan seperti laki-laki dengan segala haknya ditentang oleh perempuan sendiri? Lucu? Menurutku ini bukan bahan tertawaan, ini hal yang sangat serius. Kenapa ini bisa terjadi?
Ketika aku membicarakan bahwa nanti ketika aku punya suami aku maunya dibuat kesepakatan tentang siapa melakukan apa, komentar datang dengan berdalih apapun bahwa tidak seharusnya perempuan begitu. Perempuan harus begini dan begitu. Aku muak dengan apa pun yang mengatur perempuan. Mungkin ada juga yang berkomentar, “Laki-laki juga diatur kali. Lu pikir jadi laki-laki enak? Enakan perempuan kali tinggal di rumah ga disuruh nyari duit nanti.” Oke silakan aja berkomentar begitu. Tidak ada yag melarang. Karena Anda yang bilang seperti itu telah rela meluangkan waktu membaca tulisan ini. Aku menghargainya. Tetapi dengan segala kerendahan hatiku, aku ingin bertanya, apakah Anda pernah bilang begitu ke ibu Anda?
Aku punya adik laki-laki. Hanya selisih setahun dibawahku. Aku selalu iri dengannya dalam banyak hal. Terutama karena dia laki-laki. Aku tidak membencinya, hanya saja perbedaan jenis kelamin ini menjadikan kami berbeda dalam banyak hal.
Lalu apa salahnya menjadi perempuan? Oke aku bisa menerima kalau menjadi perempuan adalah kodrat, aku mampu memahaminya. Dengan perbedaan tubuh yang signifikan aku mengakuinya. Tapi apakah memasak adalah kodrat? Tinggal di rumah adalah kodrat? Tentu saja tidak. Kalau aku tidak bisa memasak lalu orang menghakimiku dengan mengatakan “Masa perempuan ga bisa masak? Mau jadi apa?” Aku akan tertawa lebar menanggapi hal ini dan bilang aku tetap perempuan walaupun biaa atau tidak bisa masak. Emangnya kalau aku ga bisa masak aku berubah jadi laki-laki? Atau kalau laki-laki bisa masak akan berubah jadi perempuan? Kalau begitu sih aku mau saja. Bukan berarti aku bangga tidak bisa masak atau malu bahkan karena tidak bisa masak. Aku merasa biasa saja. Aku ingin berpikir bahwa aku belajar memasak bukan karena aku perempuan tapi karena aku ingin mempunyai satu keahlian yaitu memasak. Jika aku bisa memasak, aku akan menganggap bahwa itu pilihan bukan suatu kodrat yang dilekatkan pada perempuan. Aku akan belajar tentu saja. Lalu aku bisa memasak bukan karena nanti kelak aku akan melayani suami dengan masakanku tetapi karena memang aku mau dan untuk kebutuhanku.
Apa salahnya mempunyai pemikiran yang berbeda tentang perempuan? Aku bukan mau jadi pembangkang kaum perempuan karena berpikir setiap tindakan yang aku pilih adalah karena aku perempuan. Aku hanya memikirkan kenapa harus seperti ini? Terkadang aku juga sensitif sekali jika ditentang oleh perempuan sendiri. Aku merasa tidak diakui sebagai perempuan sejati kadang-kadang karena terlalu ekstrem memikirkan tentang kenapa perempauan harus menjadi perempuan yang dianggap “ideal” di mata masyarakat. Mungkin banyak orang tidak akan mengkritik pemikiranku karena dianggap terlalu banyak menuntut tanpa dasar yang jelas.  Itu konsekuensi yang aku pilih. Biarkan saja. Aku lebih memilih dihakimi atas pemikiranku daripada dihakimi karena aku perempuan.
Aku tidak ingin perempuan selalu disalahkan atas pilihannya. Misalnya saja, pilihanku memakai kerudung dengan alasan tentu saja. Lalu mungkin suatu ketika aku akan melepas kerudungku dengan suatu alasan tentu saja (walaupun alasan itu mungkin bagi banyak orang tidak masuk akal), aku tidak ingin dihakimi. Mereka boleh mengkritik tetapi aku menolak dihakimi atas dasar aku perempuan. Ini bukan suatu pembenaran dan pembelaan atas sikap yang kupilih, tapi aku ingin orang melihat pilihanku karena ini memang suatu pilihan. Seperti misalnya laki-laki memilih untuk memakai topi atau tidak ke kampus. Tidak ada yang peduli akan pilihan mereka.  Kenapa tidak bisa berpikir seperti itu? Woyyy jangan selalu mengkaitkan apapun dengan pilihan perempuan. Oke mungkin akan ada yang berkomentar kalau ini menyangkut soal agama. Lalu kenapa tidak ada style yang menganjurkan laki-laki memakai sarung ke kampus. Apa ini soal menutup aurat? Atau soal melindungi perempuan dari tindak kejahatan? Atau malahan ini hanya soal bisnis kerudung? Entahlah hanya saja tidak bisakah kita melihat ini sebagai satu bentuk pilihan? Sekali lagi ini bukan pembelaanku. Ini hanya soal mempertanyakan tentang menjadi perempuan. Betapa sulitnya hidup dalam tubuh perempuan.
Akhir-akhir ini aku sedang berjuang menyelesaikan buku Aquarini Priyatna Prabasmoro. Aku bukan feminis. Mungkin pemikiranku mengarah kesana tapi aku hanya sebatas ingin tahu. Aku tidak membenci laki-laki yang boleh dibilang lebih beruntung. Menjadi laki-laki pun juga tidak mudah mungkin dengan segala tekanan yag dihadapi. Tetapi harus diakui stereotipe laki-laki tidak menempatkannya secara opresif. Laki-laki tidak ditekan dan ditindas oleh perlakuan yang menghakimi.
Sebelum mengakhiri tulisan ini aku ingin merekomendasikan buku yang bagus untuk dibaca karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Panggil Aku Kartini Saja. Semoga buku dan tulisan ini menginspirasi. 
 



Cukup sekian malam ini. Silakan membaca.
Salam Hangat, Susi Sarawati
Dini Hari, 02.17 Senin, 22 April 2013
  


Tuesday, January 17, 2012

Tak Ada Judul


Tak berjudul
Tidak terasa waktu berjalan lebih cepat dari angin yang datang menyapa dengan pelan. Lama tidak menulis. Tanganku berasa gatal untuk menyentuhkan kembali jemari kasarku ke tuts keyboard. Pikiranku ingin memuntahkan ide-ide yang lama tertahan. 
Hatiku lebih kacau karena harus mengeluh setiap hari tentang keadaan yang tidak sesuai. Siapa yang harus disalahkan? Jika ada pun, aku tak ingin melukai siapa pun. Aku takut mereka menjauh. Siapa yang mau menerima sampah? Akupun tidak mau, kenapa orang lain harus mau. Orang juga jenuh, bosan, tidak nyaman walaupun dia ada di pihakku.
Beberapa hari ini aku mengeluhkan banyak hal, konsekuensinya kritik datang menerpa bak jarum yang sengaja ditusukkan untuk mengecek golongan darah. Menyengat. Namun, ada kelegaan. Keadaan tidak seperti yang aku harapkan. 
Dunia tidak tenang. Gelombang sekali dua kali menyapa meskipun kecil. Membalas perilaku kita di masa lalu. Terkadang badai datang tak terduga. Yang perlu dilakukan hanya menghadapinya. Jika menghindar, apa masalah selesai? Konyol tapi memikat. Mungkin kau perlu ingat Tuhan dan tenangkan pikiran. Ketika seluruh isi bumi menantangmu, hadapi saja. Jika menang, kau akan lebih kuat dari batu di laut. Jika kalah, kau akan mampu menghadapi badai yang akan datang berikutnya. Jangan khawatir. Kekhawatiran hanya akan mencemarkan kehidupanmu dan membuatmu terlihat rendah dan semakin tidak tampak. Hanya bayangan yang akan menghantui. Menakutkan untuk dipikirkan. Orang akan tetap menghargaimu jika kau maju ke depan. Apa mereka akan melihatmu jika kau menyelinap di antara banyak orang? Mungkin mereka akan menertawakanmu, tapi itu hanya sebentar dan mereka akan lupa ketika jarum panjang mengulang angka.
Airmata juga penting untuk ditumpahkan. Jangan sampai matamu kering. Terdengar cengeng dan tidak kuat mungkin. Setelah itu perasaan akan lebih ringan dan mulailah dengan yang baru. Selalu ada episode baru dalam perjalanan ini. Pilihlah cerita yang menurutmu menarik dan memang ingin kau jalani. Jika tidak ada pilihan menarik, ambil saja yang terlihat menantang. Semua akan jadi pengalaman. Lakukan yang terbaik di setiap langkah yang lurus, datar, terjal, berbelok, curam, bahkan  tajam sekalipun.
Cerita cinta mungkin hal yang paling ingin kualami, sulit untuk bisa sampai ke sana. Tapi aku percaya ada jalan. Belum waktunya mungkin, tapi akan ada. Aku optimis. Ada seseorang di ujung jalan atau di pertengahan jalan sana yang saat ini belum terlihat olehku. Mungkin aku tidak menyadarinya meskipun ada di sekitarku. Apa aku perlu khawatir? Mungkin iya, tapi tidak usah berlebihan. Usahaku untuk sampai ke sana  sudah cukup. Aku ingin seseorang itu nantinya akan mendengar ceritaku setiap hari. Itu yang paling penting. Entah cerita senang, sedih, sulit, bahagia, penuh airmata, atau bahkan tak layak didengar. Bukankah aku memilihnya untuk menemaniku? Sudahlah. Biarkan cerita ini lengkap saat aku benar-benar merasakan cinta yang sebenarnya. Aku yakin jarang orang yang mau mendengar cerita khayalan. 
Salam Hangat. 
Komentar Kalian akan sangat berarti untukku.