Saturday, August 1, 2015

Forever Young - Bob Dylan

I love this song so much. So I would like to share lyric of Dylan's song with you guys. Listen this song and singing a loud with me. Let's sing together:

May God bless and keep you always
May your wishes all come true
May you always do for others
And let others do for you
May you build a ladder to the stars
And climb on every rung
May you stay forever young
Forever young, forever young
May you stay forever young

May you grow up to be righteous
May you grow up to be true
May you always know the truth
And see the lights surrounding you
May you always be courageous
Stand upright and be strong
May you stay forever young
Forever young, forever young
May you stay forever young

May your hands always be busy
May your feet always be swift
May you have a strong foundation
When the winds of changes shift
May your heart always be joyful
May your song always be sung
May you stay forever young
Forever young, forever young
May you stay forever young

Copyright © 1973 by Ram's Horn Music; renewed 2001 by Ram’s Horn Music.

This lyric has been taken from http://www.bobdylan.com/us/songs/forever-young. Thank you for visited my blog.

Parenthood Review

I’ve been watching a TV series that makes me cry every time. The TV series is Parenthood. It ended in early 2015. I eagerly await new episodes each season. Parenthood airs every Thursday, once a week. The final season is so heartbreaking. 

I loved all of the actors who portrayed characters in this series. Every character is so natural and flowing. I hope this series will be continued. I really appreciate a director of this series, Jason Katim. I’ve searched for him on Google and learn about his family. He had a son with Asperger’s syndrome like Max Braverman. At least I know that he mad a great series with new talent. I am a fan of yours. Thanks, Jason, you are an amazing man and a great father.

Back to the plot of series, I’ve just watched from season 4 to 6. This series told about the story of a big family with some issues. An episode would begin with a problem and end up with a solution. Camille and Zeek Braverman had four children. Adam is the first child. He is good in each of the family’s crises. He married Kristina and had three kids: Haddie, Max, and Nora. 

Thursday, July 30, 2015

23

Ketika usia memasuki angka 20 maka dunia tak lagi sama bagiku. Bukan soal dunia nyata yang sedang bergolak karena sistem yang semakin bebas, tentu saja bukan tentang itu. Terlalu luas untuk dikaitkan dengan kehidupan pengangguran yang tak kunjung mendapat pekerjaan pertamanya. Ini hanya soal cara pandang seorang perempuan yang memasuki fase hidup di umur yang cukup krusial untuk dilewati. Dunia memang semakin mengerikan dengan banyaknya persoalan yang terus melanda negeri ini. Apakah karena hal tersebut perempuan ini tak kunjung bekerja? Tentu saja tidak. Walaupun secara tak langsung berdampak pada sulitnya mencari kerja di negeri yang banyak melahirkan seorang pencuri uang negara. Di sini tak akan dibahas hal tersebut.
Perempuan ini hanya merasa galau untuk menentukan jalan hidupnya. Mau dibawa kemana masa depannya? Terkadang merasa sulit menghadapi dunia dengan sudut pandang yang sempit. Badannya yang memang sudah kurus makin lama makin susut saja. Banyak yang dipikirkannya.
Kadangkala merasa dunia ini indah ketika tak menghiraukan sekitar. Hanya peduli pada diri sendiri. Namun tatkala membuka mata sulit nian mendengar banyak kisah sedih tentang banyaknya kemiskinan. Ya ini adalah masalah negeri ini dan masih banyak lagi yang harus diurus oleh negara. Kadang menjadi apatis seolah pilihan yang gampang. Tak perlu memikirkan mereka bisa makan atau tidak besok karena melihat diri yang masih penggangguran juga sudah membuat pusing. Lalu siapa yang harus disalahkan? Kenapa tak banyak pilihan yang tersedia untuk hidup? Apakah cara pandang seperti ini yang salah? Apa yang salah dengan semua ini? Apakah sistem dunia ini? Atau ini hanya sekedar curahan hari perempuan muda yang sedikit galau? Entahlah. Sekarang ini tak ada jawaban. Karena pada fase ini memang akan banyak sekali pertanyaan dalam diri yang tak menemukan jawaban.
Pada fase ini pula lah dimulai untuk tak lagi menggantungkan hidup pada orang lain. Diharapkan mampu menyelesaikan masalah yang datang.
Akan banyak kesalahan yang akan dilakukan. Begitu pula dengan kekecewaan. Tak perlu khawatir jika dunia tak sesuai harapan. Memang inilah kenyataan yang harus dihadapi. Bahwa dunia tak mudah ditaklukkan.
Jika ada banyak orang yang tidak percaya, tak perlu dipedulikan.
Fase ini kemampuan untuk mengendalikan diri sedang diuji.
Selamat malam perempuan muda. Selamat berjuang mendapatkan pekerjaan yang diharapkan. Semoga berhasil.

Saturday, July 25, 2015

Mengenangmu

Hari ini kami memperingatimu. Ya sepuluh tahun sudah engkau telah meninggalkan keluarga ini. Kami terus berjalan. Time flies so fast. Namun kenangan tidak mudah hilang begitu saja. Walaupun hidup harus terus menatap ke depan, seolah-olah engkau selalu ada.
Aku tumbuh dewasa, menjadi perempuan yang telah memikirkan masa depannya sendiri. Tak lagi selalu memanggil namamu setiap pagi jika perlengkapan sekolahku hilang. Bagaimana mungkin aku lupa? Kadang aku ingin menghapusnya atau setidaknya menyimpan rapi semua memori tentangmu? Ada masanya semua menjadi menyakitkan. Aku masih labil menghadapi dunia. Belum menemukan titik balik dalam hidupku. Selalu mencari jawaban dari setiap keadaan yang tak semestinya. Mencari arti dari yang hilang. Engkau tak lagi bisa menjawab pertanyaanku. Mungkin kau bisa mendengar keluh kesahku, tapi aku tak mampu menjangkau duniamu. Selalu muncul pertanyaan bodoh dalam kepalaku jika suatu saat aku berada dalam masalah. Bisakah engkau kembali? Mustahil. Lalu aku menyadari, aku tak pernah benar-benar membiarkanmu pergi.
Kedewasaan tidak diukur dari usia seseorang, begitu kata pepatah. Siapa yang mengatakannya? Aku pun tak tahu. Tapi mungkin benar untuk keadaanku saat ini, aku belum dewasa. Saat itu akan datang ketika nanti aku telah mampu membiarkan yang telah pergi dan mempersilahkan orang yang akan datang. Untuk sampai pada tahap itu, aku harus belajar. Yang pertama dan utama adalah belajar mengendalikan diri. Sulit memang untuk dilakukan tapi aku yakin bisa melewatinya. Anggap saja ujian hidup. Semua orang punya masalah dan seharusnya mampu melewatinya. Kecuali orang-orang yang memutuskan untuk lari dari keadaan.
Saat ini aku ingin mengingat engkau dalam suasana yang damai dan tentram. Aku berharap engkau melihatku dan mendengarku. Saat ini aku hanya ingin didengarkan. Lalu semua menjadi baik.
Engkau adalah pribadi yang kalem, tidak banyak bicara dan menyimpan banyak cerita hidup. Sebagian diriku ingin menjadi seperti dirimu. Walau tak semua darimu sempurna tapi kau teladan yang baik. Sebisa aku mengingat engkau adalah orang yang tulus dan penuh kasih terhadap siapa pun. Kisah hidupmu memberikan banyak pelajaran untukku untuk sabar dalam menghadapi sesuatu. Aku belum mencapai itu dan masih terus belajar. Engkau tak lagi mengajariku makna hidup tapi tak apa. Kau tetap selalu di hatiku.

Aku masih menjadi anak perempuanmu. Bagiku engkau tetap hidup dalam diriku. Kapan pun aku membutuhkanmu, aku berharap engkau ada di sana sedang mendengarkanku. Bapak, aku tak lagi menangis ketika mengingatmu. Aku bahagia terlahir sebagai anakmu.

Thursday, May 21, 2015

Pulang kampung

Lelah mendera sekujur tubuh selepas perjalanan panjang melintasi jalur sepanjang tidak kurang dari 400 km. Melewati banyak kota dan kabupaten di tiga propinsi rasanya cukup membuat sendi tak berdaya. Tidur panjang di jok kursi penumpang bus malam sendirian sungguh tak enak. Tetapi tetap nikmat bersender di bahu bapak di sebelah yang memangku satu anak. Maafkan aku bapak, tubuh ini sudah tak sadar bila dalam dunia mimpi. Tak ada pembicaraan antara kita sebelumnya. Tak perlu basa basi. Pulang kali ini tidak bertujuan untuk mencari relasi. Namun tetap saja ada seorang kakek yang mengganggu di seberang tempat dudukku. Walaupun telah memasang tampang paling nyebelin masih saja ditanya pertanyaan yang males untuk dijawab. Bukan bermaksud tidak sopan akan tetapi aku memilih menjawab singkat tanpa basi-basi. Ketidaknyamanan ini tidak perlu ditambah dengan pertanyaan standar, "mau kemana? dan tinggal dimana?" Sebagai penumpang yang baik lebih baik untuk menghargai privasi orang lain dalam perjalanan yang panjang. Terkecuali jika lawan bicara menunjukkan kesediaannya untuk berbincang.
Bus berjalan menembus jalan bebas hambatan. Sesekali berhenti untuk mengangkut penumpang dan mengisi bahan bakar. Pengamen dan pedagang asongan sibuk menjajakan jualannya. Kupaksa tanganku mencari recehan di kantong jaket sisa kembalian. Satu dua pengamen kumasukkan uang ke dalam tempat yang disodorkan. Setelah kesekian aku hanya menatapnya dan pura-pura tak mendengar. Sikap ini pun banyak ditunjukkan mereka yang menghuni bus malam ini. Di terminal Kalideres, dua bocah pengamen masuk ke dalam bus dan mulai bernyanyi. Entah lagu apa yang dinyanyikan aku tak begitu memperhatikan. Pukul 03.15 sore bus meluncur ke jakarta.
Headset terpasang rapi di telinga. Kerudungku udah tak tau gimana. Asal bisa tidur nyenyak sudah tak peduli.
Tengah malem bus berhenti di tempat makan. Semua penumpang turun terpaksa aku juga ikut turun. Ngantri makan sebentar kemudian memilih tempat duduk di ujung. Sendirian. Selesai makan aku kembali ke bus. Namun sayangnya aku lupa warna bus yang aku tumpangi. Bus melaju dengan kencang.
Sampai di Brebes, terjadi kecelakaan yang mengakibatkan satu bus malam terhantam sesuatu sampai ringsek bagian depannya. Menghalangi jalan. Tak sampai membikin macet jalan. Bus melewatinya pelan-pelan.
Sepanjang jalan aku tertidur pulas. Tak tahu sudah sampai mana.
Terbangun di tengah jalan ketika sang kondektur teriak teriak, "Demak Demak, siapa yang turun Demak?" Dengan cepat aku menyahut, "Saya saya saya." Kusambar tasku di atas kepala. Segera turun di depan Masjid Agung Demak dan menurunkan bawaanku dari bagasi bus.
Akhirnya sampai juga di kampung halaman. Yeay yes.
Terbayar sudah perjalanan semalam yang cukup melelahkan.
Sampai jumpa lagi pada trip selanjutnya.
Happy holiday.

Sunday, March 29, 2015

Dibalik Setahun Penantian

Halo kawan, Selamat berminggu malam.
Besok hari senin, itu mengerikan bagi para pekerja.Sayangnya aku tidak bekerja, itu lebih mengerikan, berstatus pengangguran. Hahaha.
Tak perlu bersedih, aku masih menikmati euforia pasca sidang akhir hari kamis, 26 Maret 2015. Diselimuti rasa bahagia atas kerja yang sungguh sangat panjang.
Penantian untuk tiba pada hari dimana kebahagiaan benar-benar nyata.
Selama setahun terakhir berkutat dengan sebuah karya yang diberi nama skripsi. Banyak hal yang telah dilewati. Masa-masa yang kadang tidak dapat dijelaskan. Segala rasa telah dilalui mulai dari senang, sedih, kecewa, galau, gelisah, dan rasa yang sulit dipahami oleh diri sendiri.

Aku ingin bercerita ketika suatu malam yang seperti malam-malam biasa di akhir tahun 2014 yang tiba-tiba saja merasa punya kekuatan dan rasa yang begitu besar untuk terus menulis tanpa henti dan otak rasanya terus mengalirkan setiap kata yang akan ditulis. Aku hanya mengalami itu sekali selama malam-malam panjang pengerjaan skripsi. Seolah satu malam itu aku dirasuki hawa baik yang mendorongku untuk terus menulis dan tak ingin tertidur lagi karena takut tak akan ada lagi hasrat yang lebih besar daripada malam itu. Namun aku hanyalah manusia dengan tubuh ringkih yang selalu kelelahan dalam melakukan sesuatu. Tak pernah kuat begadang sampai pagi. Kemudian aku merebahkan diri dan merenung lalu memikirkan apakah besok aku akan mendapatkan hasrat dan pencerahan yang sama seperti malam ini? Keesokan paginya aku membuka lagi laptopku namun hasilnya sama seperti hari-hari sebelumnya. Tak seperti malam itu, otakku tak mau bekerja keras. Hanya mau sedikit diperas sari-sarinya. Aku selalu membayangkan malam itu dan berharap dapat merasakan energi yang sama ketika mengerjakan sesuatu yang lain.

Pada akhirnya, penantian panjang telah berakhir. AKU mampu menyelesaikannya dengan baik. Aku percaya pada dariku. Selama setahun ini aku telah mempertanyakan banyak hal tentang hidup dan menjadi dewasa. Aku pernah pada masa seperti marah pada semua hal yang menjadikanku seperti sekarang ini. Aku bahkan tak tahu kenapa dapat berpikir demikian.

Bahagia adalah kata yang indah. Satu kata yang sanggup menghapus semua rasa negatif. Mari kita nikmati kebahagiaan yang tak mungkin akan bertahan lama. Life must go on. So, tentu saja boleh berbahagia tetapi harus tetap menapak bumi.

Setelah ini akan ada tantangan yang lebih besar di depan. Bersiaplah untuk mencapai sesuatu yang lebih daripada sebelumnya. Rencanakan diri untuk menyongsong dunia nyata.

Happiness is the truth. 

Saturday, October 4, 2014

Senyum Tak Indah

Senyumku tidak indah. Bukan berarti bahwa aku sedang tidak percaya diri. Bukan. 

Kau tahu aktris yang punya senyum indah? Itu mungkin biasa tapi aku selalu iri dengan senyuman orang lain yang terlihat indah. Melebarkan bibir dan jadilah wajah manis nan elegan. Meskipun aku tak peduli apakah benar itu senyum tulus atau hanya sekedar senyum palsu. Aku tetap iri.

Akhir-akhir ini aku banyak berpikir, ya salah satunya tentang senyumanku yang tak indah dan kaku. Bukan karena aku jarang senyum tapi mukaku memang sulit berkompromi dengan suasana hati. Jika orang lain terlihat manis ketika di depan kamera. Maka aku sebaliknya, jarang sekali aku tampil mengesankan di kamera. 

Lalu apa yang salah? Adakah itu suatu keanehan? Tidak mampu tersenyum lebar dan manis nan elegan? Apakah itu mengurangi kebahagiaan kita? Banyak hal yang membuatku bertanya-tanya tentang sebuah senyuman. 

Apa makna bahagia? Saat aku mulai memasuki dunia menjadi dewasa, rasanya bahagia sulit didefinisikan. Hanya untuk tersenyum saja, kadang butuh alasan untuk melakukannya. Kadang sedikit mengerikan dunia ini. 

Aku meyakinkan diriku bahwa aku berhak tersenyum dan bahagia tanpa harus punya alasan dan definisi. Sadarilah bahwa tidak semua orang punya senyum indah dan tidak ada larangan untuk menampilkan senyum tak indah dan kaku. 

Tersenyumlah pada dunia.